
Di halaman rumahnya yang luas, Hj Badaria sibuk merawat sejumlah tanaman sebagai bahan membuat bedak basah. Berbagai tanaman tersebut, yang tumbuh di sela-sela tanaman hias lain, memiliki nama seperti daung bunga putih (daun bunga putih) serta daung bolong (daun hitam berlubang).
Hj Badaria pertama kali membuat bedak basah—yang secara tradisional digunakan untuk melindungi diri dari sengatan matahari—setelah Mina Cade, saudara emaknya, wafat pada tahun 1999.

Sebelumnya, Mina Cade dikenal luas penghuni Desa Kabba di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, sebagai ahli pembuat bedak basah. Kemasyhuran Mina Cade bahkan mencapai sejumlah desa tetangga hingga ia memperoleh gelarnya sendiri: sanro pabbura bingkasa, atau seorang tabib yang ahli mengobati perempuan usai melahirkan. Ia juga dapat mengobati orang-orang dengan gejala penyakit lain, seperti memuntahkan darah secara misterius hingga tampak kelelahan tanpa alasan jelas.
Menurut Hj Badaria, Mina Cade—yang lahir pada 1916 dan meninggal pada usia 83 tahun—tidak menikah seumur hidupnya karena takut akan proses melahirkan, meskipun sebanyak 11 laki-laki pernah datang untuk meminangnya. Alih-alih menjalani kehidupan rumah tangga yang tradisional, Mina Cade melanjutkan dan menghidupkan kembali tradisi membuat bedak basah dan memperoleh penghidupan dari sana. Hasil usahanya pun tidak selalu dibayar dengan uang oleh orang-orang yang datang berobat. Terkadang, mereka hanya membawa gabah, beras, hingga kebutuhan pokok lainnya.
Silsilah Mak Kebo
Meski terdengar sederhana, Hj Badaria menekankan bahwa ihwal membuat bedak basah bukan hal sembarangan. Praktik tersebut, menurutnya, hanya dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya berdasarkan “aliran dari orang pertama”.
“Ada pengalaman mistik yang dialami melalui mimpi,” ujarnya dalam bahasa Bugis.
Berdasarkan silsilah keluarga Hj Badaria, orang pertama yang membuat bedak basah adalah nenek buyutnya, Isa, yang akrab disapa Mak Kebo. Isa dikaruniai seorang anak, Sadaria, yang dipanggil Cade’e. Dari Cade’e kemudian lahir Cabaria—yang merupakan ibu dari Hj Badaria—Mina Cade, dan Juraeje.
Cade’e mewarisi ilmu membuat bedak basah dari emaknya, kemudian menurunkannya ke Mina Cade. Karena Mina Cade tidak memiliki anak, maka ilmu tersebut seharusnya diteruskan ke kedua saudaranya—Cabaria dan Juraeje. Hanya saja, Hj Badaria mengaku bahwa emaknya, Cabaria, tidak berminat melanjutkan warisan tersebut. Sedangkan Juraeje adalah seorang laki-laki—pembuat bedak basah, secara tradisi, merupakan perempuan.

Alhasil, ketika Mina Cade wafat, trah pembuat bedak basah melompat satu generasi ke bawah, yakni keturunan Cabaria dan Juraeje. Semasa hidupnya, Mina Cade sendiri lebih akrab dengan keturunan Cabaria. Ketika sakit, ia akan menginap di rumah Hj Badaria dan diurus oleh Hukmawati, anak sulung Hj. Badaria.
Pada masa muda mereka, kedua anak laki-laki dan tujuh anak perempuan Hj Badaria sudah sering membantu Mina Cade menumbuk adonan beras untuk bedak basah. Namun, dari kesembilan anak Hj Badaria, Mina Cade paling sering dibantu oleh Hukmawati hingga menganggap cucu saudaranya tersebut sebagai anak sendiri.
“Mina Cade tidak sembarang menyukai anak,” kenang Hj Badaria. Dalam ingatannya, ia sendiri kerap berselisih paham dengan bibinya itu. Meski demikian, Hj Badaria merasa bahwa Mina Cade kemungkinan melihat Hukmawati sebagai cerminan dirinya sendiri. Keluarga mereka pun berpendapat bahwa terdapat banyak kemiripan sifat antara Mina Cade dan Hukmawati, terlebih karena Hukmawati sendiri baru menikah ketika sudah berusia 40 tahun.
“Sebenarnya warisan membuat bedak basah ini tidak diperebutkan. Tetapi ada semacam petunjuk yang rumit dijelaskan,” tutur Hukmawati.

Proses membuat bedak basah sebenarnya tidak rumit dan hanya membutuhkan keterampilan membuat adonan menggunakan lesung dan alu. Namun, agar bedak basah yang dihasilkan dapat benar-benar berkhasiat, pembuatnya dipercayai perlu memiliki kuasa mistik terlebih dahulu. Hal inilah yang membuat peran seorang pembuat bedak basah lebih menyerupai panggilan hidup ketimbang pekerjaan biasa.
Panggilan tersebut, yang tidak dialami semua orang, hadir dalam wujud sebuah mimpi.
Hj Badaria pernah mengalaminya. Ia bermimpi didatangi Cade’e, yang meniupkan mulutnya. Hukmawati pun sempat mengalami mimpi serupa: “Saya lihat Cade’e mendatangi saya dan meminta saya membuka mulut. Lalu ia meniup mulut saya,” ujarnya.
Bagi keluarga Mina Cade, mimpi ini dianggap sebagai tanda bahwa generasi pendahulu telah meneruskan ilmu mereka ke generasi berikut—bagai sebuah persetujuan dan berkat.
Kiat-kiat Meracik
Setelah melewati prasyarat pengalaman mistik tersebut, satu-satunya hal penting hanya tekad dan keuletan sang pembuat bedak basah—terutama untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang datang berobat dan permintaan pasar.
Selain keluarga Mina Cade, sebenarnya terdapat sejumlah keluarga lain di Desa Kabba yang dapat membuat bedak basah untuk keperluan pribadi mereka. Meski demikian, saat ini tradisi membuat bedak basah mulai ditinggalkan karena membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga ketimbang membeli barang jadi, seperti bedak hasil produksi massal.
Pada umumnya, bedak basah memang digunakan untuk melindungi kulit dari sengatan sinar matahari, seperti saat turun ke sawah. Meski demikian, Hukmawati menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis bedak basah yang berbeda—seperti be’da bau (bedak harum), atau be’da ana’dara (bedak perempuan muda).
“Ada beberapa bahan dasar yang berbeda [untuk jenis bedak berbeda],” terang Hukmawati.
Bahan utama untuk membuat bedak basah merupakan tumbuhan bernama daung paddewakkang, yang kemudian dicampur dengan sejumlah daun lain seperti daung lelleng banua, daung bunga pute, daung lawarani, serta daung malacui (sejenis tumbuhan paku). Bahan lainnya berupa bawang putih dan merah, kunyit basah, pelleng (sejenis biji pala), lengnga (wijen), merica, temulawak, vanili, dan beras dua warna—merah dan putih. Semua bahan dasar inilah yang dipakai membuat bedak basah untuk pengobatan.
Sementara itu, bahan untuk membuat be’da bau sedikit berbeda: alaba (berupa biji-bijian yang mengeluarkan bau harum), ce’ku (jenis kunyit), dan daung calapari. Beras yang dipakai pun hanya satu macam, yakni beras putih.

Pengobatan menggunakan bedak basah lazimnya juga hadir sepaket dengan ramuan untuk diminum, yang disebut pappainung. Bahannya terdiri dari berbagai tanaman, rempah, serta tiga butir telur ayam kampung. Ramuan tersebut harus dimasak terlebih dahulu, dan air rebusannya dicampurkan dengan kuning telur ayam sebelum diminum. Setelah itu, barulah bedak basah yang sudah dicampurkan dengan air dibalurkan ke sekujur tubuh.
Keseluruhan proses ini—disebut sebagai paccera—juga melibatkan seekor ayam yang berfungsi sebagai simbol untuk memagari orang yang berobat agar penyakitnya tidak kembali lagi. Ayam menjadi pilihan dalam proses pengobatan karena dua alasan. Pertama, ayam merupakan hewan yang mudah ditemui dan harganya terjangkau. Kedua, ayam tersebut selanjutnya akan dipelihara oleh Hj Badaria sendiri selaku sanro pabbura bingkasa sebagai petunjuk akan kesehatan sang pasien: apabila si ayam baik-baik saja, maka sang pasien harusnya juga demikian.
“Jika ramuan minuman sudah habis, ampasnya harus ditanam di bawah pohon dan pasien harus datang lagi untuk memberi tahu apakah sudah mulai sembuh. Kalau sudah merasa baik, maka pasien perlu melaksanakan massure baca, atau ritual ungkapan syukur,” terang Hukmawati.
Dampak Perubahan Zaman
Hj Badaria sendiri sudah tidak ingat kapan ia akhirnya benar-benar bersedia meneruskan tradisi membuat bedak basah. Yang jelas, ketika Mina Cade wafat, Hj Badaria tidak serta-merta meneruskan peran sebagai pembuat bedak basah di Desa Kabba.
Semuanya bermula ketika seseorang mendatanginya untuk dibuatkan bedak basah atas anjuran seorang kerabat Mina Cade. Perlahan, makin banyak orang yang mendatangi Hj Badaria untuk memperoleh kesembuhan.
Menurut Hukmawati, emaknya hanya membuat bedak basah kalau ada pesanan. Umumnya, pesanan datang dari perempuan yang baru habis melahirkan, tapi ada kalanya pula dari laki-laki yang merasa mengalami penurunan daya tahan tubuh. Bedak basah Hj Badaria dapat digunakan untuk mengobati luka bakar, gatal-gatal, eksim, kulit kering, luka, jerawat, hingga menurunkan demam, menambah nafsu makan, mengobati kesulitan tidur dan mengatasi infeksi akibat jamur.
“Emak saya hanya membuat bedak basah untuk orang yang datang memesan. Tetapi, saya kadang membuat bedak harum karena sewaktu-waktu ada orang yang datang mencari,” tutur Hukmawati.
Di sisi lain, Hukmawati masih ingat bahwa dulu Mina Cade pernah membuat bedak basah untuk khalayak umum. Bedak basah tersebut dikemas menggunakan koran bekas, dijual dengan harga Rp300-500 per kemasan, dan dapat dipakai hingga sepuluh kali.

Meski demikian, perkembangan zaman mengakibatkan pemakaian bedak basah perlahan ditinggalkan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan perubahan kehidupan para petani, yang dulunya merupakan kelompok konsumen pemakai bedak basah terbesar di Desa Kabba.
Perubahan ini bisa ditilik dari pengenalan konsep “Revolusi Hijau” di seluruh Indonesia pada dekade 1960 yang merombak seluruh proses bertani—dimulai dari persiapan benih hingga panen. Pengenalan varietas bibit padi yang lebih pendek di Sulawesi Selatan menyebabkan masyarakat tidak dapat lagi menggunakan alat panen ani-ani, yang lazimnya hanya digunakan perempuan, dan beralih memanen menggunakan sabit, perkakas yang lebih sering dipakai laki-laki. Lambat laun, wajah dunia pertanian pun menjelma semakin maskulin.
Dulunya, pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam proses bertani mensyaratkan keseimbangan antara keduanya agar produksi berlangsung dengan baik. Menyempitnya peran perempuan di proses tersebut, rupanya, berimbas pada turunnya penggunaan bedak basah di kalangan petani. Meski terdapat juga petani laki-laki yang memakai bedak basah, jumlahnya tidak sebanding dengan petani perempuan.
Bahan-bahan yang Menghilang
Pada medio 1980, semua anak perempuan Desa Kabba, termasuk Hukmawati, begitu terbiasa menggunakan bedak harum bersama-sama.
Kebiasaan ini rupanya begitu lekat pada Hukmawati sehingga setelah menikah pada tahun 2001 dan merantau ke Sorong, ia masih kerap membuat bedak basah untuk digunakan sendiri. “Ketika gerah dan tidak bisa tidur di malam hari, saya biasanya membaluri seluruh tubuh dengan bedak basah,” terangnya.
Masalahnya, di Sorong ia tidak dapat menemui bedak basah seperti halnya di Desa Kabba. Pada mulanya, Hukmawati hanya mencampur bedak kemasan dengan air. Namun, lama-kelamaan ia akhirnya membuat bedak basah dari nol, dengan bahan baku beras dan kunyit merah yang ditumbuk memakai cobekan dapur. “Khasiatnya tentu berbeda karena bahan yang digunakan tidak lengkap,” jelas Hukmawati.
Dalam perantauan, ia sering mengenang kampung halamannya dan Mina Cade, yang selalu menyediakan bedak basah khusus untuknya. Ia juga ingat bagaimana Mina Cade kerap menegurnya jika lalai memakai bedak basah tiap hari.
“Kau harus selalu pakai bedak basah supaya tidak cepat dimakan usia,” ujarnya menirukan pesan Mina Cade. “Tapi itu baru satu kegunaannya. Pemakaian bedak basah juga ampuh menghilangkan flek hitam dan jerawat.”

Saat ini, Hj Badaria yang sudah uzur masih dapat mengingat semua bahan yang diperlukan untuk membuat bedak basah. “Sebenarnya harus ada 40 jenis bahan, tetapi sebagian besar bahan yang berupa dedaunan khusus itu sudah langka,” terangnya.
Hukmawati membenarkan ini. Seingatnya, Mina Cade kadang harus menunda proses pembuatan bedak bila salah satu bahan yang dibutuhkan tidak tersedia. Sejumlah tumbuhan yang diperlukan tersebut dulunya tumbuh liar di hamparan tanah penduduk, tetapi seiring waktu menghilang karena dibangunnya rumah-rumah baru. Sementara itu, sejumlah tanaman yang masih bisa dibudidayakan sendiri ditanam di halaman rumah—termasuk daung paddewakkang yang teramat penting. Namun, karena tidak semua dari 40 jenis daun ini dapat diperoleh dengan mudah, Hj Badaria kini hanya memakai lima jenis dalam racikannya.
“Dedaunan itu hanya perantara saja. Intinya adalah niat dan keyakinan orang yang datang berobat bahwa ia bakal sembuh. Daun lain boleh saja tidak ada, tapi daung paddewakkang sifatnya wajib,” jelas Hj Badaria.
Hj Badaria sendiri tidak memasang tarif khusus kepada mereka yang datang berobat, dan pasien pun terkadang membawa sendiri bahan-bahan yang dibutuhkan. Namun, kebanyakan dari mereka hanya mau terima beres. Ini cukup menyulitkan mengingat sejumlah bahan, seperti telur dan ayam, kadang kali hanya bisa ditemukan di pasar Maros, kabupaten tetangga Pangkajene dan Kepulauan. Jika ditaksir, keseluruhan biaya bisa mencapai dua ratus ribu.
Baik Hj Badaria maupun Hukmawati pun tidak mengiklankan jasa pengobatan mereka. Pasien yang datang umumnya adalah jaringan keluarga dari orang-orang yang dulunya berobat pada Mina Cade, dimana kabar mengenai Hj Badaria yang melanjutkan tradisi pengobatan telah beredar dari mulut ke mulut. Dalam sebulan, jumlah orang yang datang untuk berobat tidak menentu. Yang pasti, selalu saja ada yang datang.
“Biasanya, tiap bulan akan ada dua atau tiga orang datang meminta dibuatkan bedak basah,” jelas Hukmawati.
Generasi Penerus
Kini, Hj Badaria sudah mencapai usia senja, dan trah pembuat bedak basah sudah hampir pasti diteruskan oleh Hukmawati. Selain itu, ia juga sering mendengar minat anak Juraeje untuk meneruskan tradisi tersebut.
Hanya saja, mereka belum mengalami mimpi yang sama.
Hari telah beranjak sore ketika Hj Badaria bersama cucunya, Nailah, menyelesaikan adonan bedak basah yang siap dikeringkan. Nailah merupakan anak dari Hamsina, anak keenam Hj Badaria. Menurut Hukmawati, Hamsina masih kecil ketika Mina Cade masih giat membuat bedak basah, dan belum lahir ketika Cade’e wafat.

Ketika ditanya cucu Hj Badaria mana yang berpotensi untuk membuat bedak basah, Hukmawati rupanya tidak bisa menjawab dengan mudah. “Saya tidak tahu. Mungkin saja tidak semua keturunan emak saya bisa melanjutkan,” katanya. Ia juga tidak bisa menjawab siapa yang akan meneruskan tradisi itu setelah emaknya tidak ada lagi.
“Saya tidak mau mendahului kehendak Tuhan. Karena kita tidak tahu kapan ajal akan datang,” jawabnya singkat.
Melihat saya terus mengobrol dengan Hukmawati. Hj Badaria lalu bangkit dan membiarkan cucunya menyelesaikan adonan bedak.
“Sisa sedikit, kamu selesaikan,” ujarnya.
Ia kemudian mengambil air dari ember yang terletak di depan pintu masuk, kemudian pergi menyiram tanaman di pekarangan.
The post Hikayat Bedak Basah: Warisan yang Diturunkan Melalui Mimpi appeared first on New Naratif.
New Naratif explains and explores the forces which shape how Southeast Asians live and understand our region. Learn more at https://newnaratif.com/hello/.